TANTANGAN [Sepanjang] ZAMAN

posted in: #Social | 0

Sebagai bakal politisi yang berusaha untuk terus jujur dengan asal-usul saya bergabung, saya usahakan banyak bergaul dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Tanpa diskriminasi saya bertemu dan belajar dari mereka dengan mata yang segar, ingin memahami apa adanya dan tanpa pretensi.

Ada yang politisi memang betulan (penggilan hati karena situasi) ada juga yang KW (jadi politisi karena kaget tiba-tiba ingin jabatan); ada yang memang konsultan unggulan dengan data dan perhitungan, ada yang karbitan melulu berdasar “pengalaman” dan kepercayaan diri berlebih sekadar membuat impresi bagi si calon korban (si bakal politisi kaget jabatan tadi) – di Malang disebut “boto”.

Satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah bahwa mereka yang paling baik dan mampu merespon perkembangan situasi tanpa batas di politik adalah mereka yang paling “bisa belajar”. Kesannya klise ya, masak sih orang “tidak bisa belajar”?

Tapi demikianlah adanya. Tantangan zaman ini, seperti juga tantangan zaman lalu dan niscaya zaman yang akan datang, adalah untuk bisa terus belajar. Belajar artinya mau merendahkan hati menerima pandangan yang berbeda, mengakui dengan rendah bahwa situasi memang sudah berubah, memahami dengan keheranan bahwa masa depan sedang menjadi.

Lalu apa ciri orang yang “bisa belajar” itu? Biasanya dia rileks, pertama-tama rileks para dirinya sendiri, tidak baperan, sensitif pada perasaannya sendiri: Apa yang menyentuh hatiku dari situasi yang kuhadapi sekarang ini? Apa masa lalu yang sudah mati? Apa masa depan yang sedang mau dilahirkan?

Untuk belajar dia mulai dengan tiga hal: mengamati, mengamati, dan mengamati. Menunda peniliaiannya bahkan yang paling meyakinkan buatnya. Kemudian dia akan menyurut ke belakang dan merefleksikannya, membiarkan pengetahuannya surut sejenak dan memberikan kesempatan kebijaksanaan purbanya keluar.

Namun tidak berhenti di situ, begitu di rasa secukupnya agar tidak menjadi pingsan pikiran, dia langsung bergerak dengan gagasan dan prototipe aksi nyata yang konkret. Sambil pada saat sama dia melakukan lagi pengamatan, menyurut dan merefleksikannya, dan langsung mengambil tindakan yang dibutuhkan.

Demikian pelajaran terus berlanjut seperti bentuk huruf U, dimulai dari kiri sebagai titik awal, turun ke bawah, dan langsung melejit ke atas dengan mata panah menghadap ke atas. Inilah yang disebut “theory U” oleh Prof. Otto Scharmer dari MIT, Boston.

Tiap zaman akan senantiasa punya tantangannya sendiri, tapi manusia sejauh ini selalu menemukan cara untuk mengatasinya dan menjadi lebih baik dan menemukan peradaban barunya. Semua hanya bisa dilakukan dengan belajar, yang dilakukan dalam tiga (Scharmer menambah dua lagi menjadi lima) tahap besar tadi: mengamati, menyurut dan merefleksikan, mengambil aksi konkret. Untuk kemudian memulai lagi proses tadi, dan siklus belajar kembali berulang.

Senantiasa ada kabaruan dalam segala sesuatu, seperti juga senantiasa ada yang harus mati dan harus dilahirkan. Itulah siklus alam yang bahkan manusia yang paling cerdas pun harus menerimanya.

Tantangan zaman barangkali bukan pada problem yang niscaya senantiasa dihadapi manusia, tapi pada apakah manusia (politisi, dosen, petani, aktivis, guru, birokrasi, pegawai swasta, buruh, pimpinan serikat buruh, konsultan atau “boto”, juga presiden atau presiden wannabe) memang punya cukup kerendahan hati untuk “mau belajar”.

(Lagi belajar di Vietnam kotanya sang pendiri negeri, Ketua Ho Chi Minh, alias Saigon)

Leave a Reply