Setelah gedung DPRD kota Malang terisi, LANTAS MAU APA?

posted in: #Cultural, #Social | 0

Terakhir! demonstrasi mahasiswa kelompok cipayung plus digelar di halaman gedung DPRD kota Malang. Seruan, bahkan tuntutan pun tersampaikan kepada yang sebenarnya tidak berkepentingan langsung. Alun-alun bundar atau tugu beserta seluruh penghuninya adalah saksi bisu keprihatinan mahasiswa.

Partai politik, KPU, KPK, Mendagri, Pemkot sebagai subyek yg dituntut entah ada atau tidak. Lantas seruan/tuntutan itu diperuntukan pada siapa, selain petugas kepolisian yg menjalankan tugas pengamanan demonstrasi tersebut. Perwakilan anggota DPRD yang tidak tersangkut kasuspun, jika ada? Apakah memiliki kapasitas untuk menyampaikan tuntutan tersebut kepada yang ditujukan?

Banyak pertanyaan dan masih belum bisa dijawab. Aksi mahasiswa hanyalah aksi moral. Simbol bahwa keadilan, kebersamaan itu sudah terkoyak. Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki itu semua? Untuk itulah saya mengajak segenap warga kota Malang untuk mulai bergerak.

Saya yakin partai politik, KPU, KPK, Mendagri maupun pejabat Pemkot Malang sudah mendengar informasi ini melalui berbagai media. Maka saya ajak semua komponen-komponen tersebut untuk segera melakukan evaluasi sesuai dengan peran masing masing.

Baca: Pelantikan 40 Anggota DPRD Kota Malang Hasil PAW Diapresiasi 

Persoalan DPRD kota Malang bukanlah soal pergantian keanggotaan dewan. Diganti siapapun! jika motivasinya dan tujuannya asal tidak kosong maka tuntutan moral dalam aksi mahasiswa tersebut tidak akan terpenuhi.

Khusus untuk partai politik sudah saatnya mereka harus membuka mata bahwa sistem yang mereka lakukan selama ini hanya menodai kepercayaan konstituennya. Kebanggaan yang mereka bangun selama ini hanya menjadi narasi kosong dalam mengembangkan kualitas hidup konstituen.

Untuk warga kota Malang, inilah saatnya mereka menjadi cerdas yang sebenarnya. Kota Malang dengan keunikannya harus mulai berani mengambil peran sentral dalam mengembangkan politik yang bermartabat. Prinsip “maju tak gentar membela yang bayar” perlu diperhitungkan ulang. Sejarah sudah mencatat.

Warga Malang harus mulai merubah haluan dari politik transaksional menjadi politik yang memberdayakan. Dengan pola ini seorang caleg pun akan belajar untuk menjadi wakil yang sesual dgn kualitas tuntutan kebutuhan kebutuhan masyarakat.

Pesta demokrasi dalam pemilu adalah ujian rasionalitas kapasitas siapa yang layak mewakili masyarakat selama 5 tahun mendatang. Bukan lagi soal pertemanan atau kepentingan membangun dinasti tertentu, apalagi soal suka tidak suka. Kultur seperti ini sudah selayaknya kita hentikan!

Ayo kita bangun kembali  kota Malang melalui pileg yang berkualitas dengan memilih calon yang bervisi membangun malang lebih baik, maju dan sejahtera. berani memilih orang baru yang akan jadi teman kita itu lebih baik dari pada memilih teman lama  yang nantinya menjadi musuh kita.

#suryatjandra #suryatjandracentre #PSIno11 #tidakgolput #ngalambois

Leave a Reply