SURYA TJANDRA tumbuh menjadi pribadi kuat, tangguh dan cemerlang bukan berkah cuma cuma yang turun dari langit. Dedikasi yang kuat pada kehidupan melalui perjuangan yang panjang itulah metamorfose SURYA TJANDRA menjadi DR. SURYA TJANDRA, S.H, LL.M

SURYA lahir dan tumbuh dalam kondisi sederhana semenjak 28 Maret 1971. Ayah dan ibunya adalah pedagang ayam potong di pasar Jatinegara, Jakarta. Kehidupan yang sederhana, bahkan bisa dikatakan pas-pasan semakin terasa berat karena harus tumbuh bersama dengan 6 saudaranya.

Surya adalah seorang yang mengagungkan sosok ibu. Dari ibunya dia belajar manajemen kehidupan dan seni memimpin. “Beliau perempuan istimewa dan akan selalu istimewa bagi saya” ungkap Surya. Ibundanya adalah sosok pekerja keras, selain bekerja sama dengan ayahnya; ibundanya tidak lupa mendidik putra agar selalu disiplin dan tekun mengejar cita-citanya.

Dedikasi Surya sudah tampak sejak awal. Pengalaman tidak bisa mengambil rapot karena belum menyelesaikan administrasi sekolah dan kedua kakaknya yang harus berhenti kuliah karena masalah biaya tidak membuat Surya patah semangat. Ia tetap semangat belajar. “Waktu itu, saya mengandaikan bahwa saya benar naik kelas.”, kenang pria yang hobi mengayuh sepeda ini untuk merasionalisasi keadaan waktu itu.

Kondisi sosial ekonomi yang serba terbatas justru menjadi pemicu untuk semakin giat dan semangat belajar. Melalui perjuangan yang panjang akhirnya Surya berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Tidak puas menamatkan studi S-1, Surya pun melanjutkan Studi PASCA SARJANA melalui jalur bea siswa di Universitas Warwick, Inggris dan Program DOKTORAL di Universitas Leiden, Belanda.

Sisi lain Surya yang tumbuh dalam segala keterbatasannya, melahirkan sensitivitas pada kesenjangan sosial dengan berbagai isu kemiskinan serta ketidakadilan. Hal ini juga yang membawanya pada LBH JAKARTA dan mulai aktiv membela buruh. Adnan Buyung Nasution dan Yap Thiam Hien adalah 2 tokoh yang menginspirasinya utk berjuangan di jalur Hukum. Selain kedua tokoh tersebut, Munir Said Thalib adalah seorang yang dikaguminya. Pejuang hak asasi manusia ini juga yang mengukuhkan niatnya Surya untuk memperjuangkan hak asasi manusia. “Tidaklah cukup bila hanya berada diluar sistem. Tetapi, juga harus masuk dalam sistem politik itu sendiri untuk mulai memperbaikinya!”, tegas Surya belajar dari kasus yang menimpa teman sekaligus sahabatnya, Munir.

Salah satu monumen yang berhasil Surya kawal sampai dengan akhir ada Komite Aksi Jaminan Sosial, sebuah gerakan aliansi masyarakat yang terdiri dari serikat buruh, tani, nelayan, mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Surya dipercaya menjadi koordinator TIM PEMBELA RAKYAT untuk jaminan sosial, yang menjadi kuasa hukum dari masyarakat dalam merancang gugatan terhadap pemerintah yang lalai melaksanakan perintah UU No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) dan mengikuti persidangan di pengadilan.

Hasilnya, masyarakat memenangkan gugatan tersebut. Pemerintah dinyatakan bersalah karena tidak melaksanakan perintah UU dan meminta pemerintah segera melaksanakan kewajibannya menyelesaikan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Surya jugalah yang mengawal pengesahan UU No. 24 tahun 2011 mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau yang kita kenal dengan istilah BPJS.

Kepiawaian Surya dalam mengawal disahkan UU no 24/2011 tentang BPJS tidak terlepas dari kemampuan akademiknya yang mumpuni sebagai lulusan di kampus Hukum terbaik di dunia, Leiden Univercity. Kapasitasnya menemukan bentuk orisinal setelah berpadu dengan kegelisahan batin yang tumbuh puluhan tahun dari sosok Surya kecil, sosok yang mencoba memahami kehidupan. “Ilmu pengetahuan ini mengamanatkan saya untuk tetap berpijak di bumi dan membaktikan diri untuk harkat kemuliaan kemanusiaan.” Surya berfilosofi tentang dirinya yang saat ini yang sudah bernama lengkap DR. SURYA TJANDRA, S.H, LL.M.