POLITIK adalah JEMBATAN bukan tembok!

posted in: #Cultural | 0

politik-jembatan-bukan-tembok

Politik adalah seni meraih dan mempertahankan kekuasaan. Dan karena kekuasaan memberi kenikmatan bagi yang memilikinya, politik seringkali menjadi melulu soal kekuasaan. Padahal politik, ketika dilaksanakan dengan benar, juga bisa mulia karena bisa memberi manfaat bagi banyak orang.

Dalam ketergesaan dan syahwat menggelegak untuk berkuasa, sering terjadi politisi menggunakan cara2 sekadar untuk menang, termasuk memecah belah masyarakat dengan isu2 primordial (seperti suku, agama, ras), untuk mudah membangun sentimen agar orang mau memilihnya.

Ucapan calon penguasa yang penuh dengan slogan di mulut sekadar untuk berkuasa hanya bisa berhasil di masyarakat yang sesungguhnya tidak peduli pada masalah2 publik, dan mudah dipengaruhi slogan yang menyederhanakan asal menyenangkan dan/atau membakar ketidaksukaan, pada siapa pun yang sedang berkuasa.

Inilah strategi populisme kanan yang diharapkan bisa meraih dukungan mayoritas dari mereka yang merasa menjadi “korban” situasi. Strategi populisme adalah dengan membenturkan masyarakat bawah dengan elite. Uniknya dengan populisme zaman kini sering digunakan oleh mereka yang sesungguhnya adalah elite itu sendiri, sementara rakyat pemilik suara menjadi sekadar target untuk diraih suaranya dalam pemilu.

Dia menjadi populisme kanan karena menggunakan pula isu primordial yang emosional, sehingga strategi pembenturan tidak hanya dibuat secara vertikal masyarakat bawah vs elite, tetapi juga secara horisontal masyarakat bawah vs masyarakat bawah yang berbeda identitas primordialnya.

Tujuannya adalah agar masyarakat mudah digiring suaranya, dengan cara memperkuat persepsi ketidakpuasan satu sama lain, yang sering dibikin2 sendiri, dibesar2kan oleh dirinya dan kelompoknya sendiri, dan diilusikan bisa diselesaikan sendiri nantinya kalau berkuasa.

Padahal berhasil berkuasa itu satu hal, mampu menjalankan amanat itu hal lain lagi, yang amat bergantung pada komitmen dan rekam jejak seorang pemimpin. Sementara rakyat kebanyakan, yang bermimpi bisa ikut menikmati keberhasilan kekuasaan tadi, sering malah tertipu janji manis. Sesaat menyenangkan tapi dalam jangka panjang terasa tidak nyaman.

Menghadang populisme kanan tidak bisa hanya dengan retorika. Perlu kerja keras dan empati untuk memahami rakyat yang punya logikanya sendiri dalam memilih; tidak bisa hanya menghakimi. Rakyat tidak pernah berhenti berharap, tetapi mengganti harapannya pada siapa pun yang bisa memberinya harapan. Termasuk dari mereka yang hanya mampu mengumbar janji. Politik berbasis ketakutan harus dijawab dengan politik berdasar harapan.

Rakyat perlu terus ditemani, bahkan ketika pilihannya itu salah. Sampai, pada waktunya, rakyat akan muak sendiri dengan pemimpin bermulut manis, dan mulai mencari pemimpin otentik yang punya integritas dan loyalitas, yang akan dengan sepenuh hati mendampingi rakyatnya meraih kesejahteraannya dan kemuliaannya bersama-sama.

Kita butuh politik yang menyatukan bukan membelah, politik yang membangun jembatan bukan membangun tembok. Kita butuh kepemimpinan yang empati, tidak menghakimi, mampu mendengar, dan mewujudkannya dalam aksi. Negeri ini baik dan akan makin baik.

Leave a Reply