PILKADA serentak : MOMENTUM PERUBAHAN berawal dari suksesi pemimpin daerah

posted in: #Cultural, #Social | 0

“Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi mencegah yang terburuk berkuasa,” ujar Romo Magnis Suseno, ahli filsafat politik. Mendengar pendapat ini agak miris rasanya bahwa saya harus realistis dengan kenyataan, bahwa sebenarnya pemilu adalah sarana mencari pemimpin terbaik dari yang ada dan mewakili masyarakat, kini berbalik sekadar memperjuangkan agar penguasa yang duduk bukanlah penguasa yang buruk.

pilkada serentak

Ironis! Dan inilah fakta yang harus kita terima di balik ungkapan rohaniwan sekelas Romo Magnis Suseno. Sebagai warga negara yang baik tentu kita tidak ingin mengulangi perjalanan sejarah lima tahun di mana harapan yang kita titipkan kepada para calon harus bertepuk sebelah tangan.

Tentu kita menggunakan hak suara kita bukan sekedar untuk memberikan dukungan pada pemimpin yang tidak buruk. Melainkan kita memandang bahwa pemberian hak kita itu hanyalah awal dari partisipasi politik warga negara yang sebenarnya.

Saya yakin Romo Magnis tidak bermaksud mengecilkan arti seorang pemimpin dalam perkembangan sebuah daerah. Ada undangan yang tersirat dari ungkapan tersebut yang harus kita tanggapi positif. Yakni, bahwa pemilu hanya menjadi terbaik jika ada perubahan mindset dalam diri para pemegang hak suara.

Pemilu tidaklah usai ketika seorang pemimpin memperoleh suara terbanyak! Bahwa suara terbanyak itu mengandung sebuah kesamaan kehendak membangun masyarakat sipil yang partisipatif dalam mewujudkan politik yang semakin solider dan bermartabat untuk semua kalangan.

Salah satu partisipasi nyata atas refleksi ungkapan Romo Magnis adalah berhenti golput. Golput hanya akan melahirkan kekuasaan yang semakin buruk. Mengapa? Karena pemimpin yang terbentuk tidak memiliki pertanggungjawaban moral pada konstituennya.

Jangankan memilih yang terbaik, menghindari kekuasaan burukpun akan sulit dilakukan, karena kita sebenarnya tidak peduli siapa pun yang akan berkuasa. Kita bisanya hanya mengeluh, mencaci dan tetap saja tidak peduli.

Romo Magnis berusaha mengingatkan kita semua, bahwa yang terpenting dari proses pemilu adalah bukan pada siapa yang akan menang. Tapi pemilu hanyalah awal di mana budaya partisipatif dibangun melalui penyaringan aspirasi masyarakat melalui mekanisme komunikasi konstruktif.

Antara yang dipilih dan yang memilih memikiki kesatuan emosional dan rasional yang tercermin pada visi, misi dan agenda pembangunan yang akan ditawarkan dan dikembangkan.

Akhir kata, semoga pilkada serentak yang digelar di beberapa wilayah Indonesia ini, termasuk kota Malang, menjadi momentum, harapan sekaligus pintu masuk budaya partisipasi masyarakat untuk mewujudkan keadaaa/situasi yang jauh lebih kondusif untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Malang, 26 Juni 2018
Hormat Saya,

SURYA TJANDRA
Bacaleg #PSInomor11
Dapil Malang Raya

Leave a Reply