PENSIUNLAH yang BAHAGIA, Profesor Jan-Michiels Otto!

posted in: #Social | 0

Pensiunlah yang bahagia, Profesor Jan-Michiels Otto, karena akan banyak yang bisa Anda lakukan! 🙂

“free from ivory-tower
the pencil twirls
across the footpath”

― Santosh Kalwar

[Foto credit Fachrizal Afandi]
Kemarin waktu Belanda [tujuh jam di belakang kita] adalah hari terakhir Profesor Jan-Michiels Otto sebagai professor di Universitas Leiden. Beliau adalah orang yang menerima saya menjadi kandidat doktor di Universitas Leiden, melalui sepucuk surat yang ditandatanganinya sebagai Direktur Van Vollenhoven Institute di tahun 2004.

Van Vollenhoven Institute adalah sebuah lembaga riset hukum dan masyarakat di negara berkembang yang berada di bawah Fakultas Hukum Universitas Leiden. Meski bukan satu-satunya, Indonesia selalu menjadi salah satu fokus perhatiannya yang utama, semua yang belajar hukum di Indonesia pasti mengenal nama “Van Vollenhoven” yang adalah “bapak hukum adat” di Indonesia.

Tentu banyak percakapan dan kenangan yang diberikan Profesor Jan-Michiels Otto [JMO] kepada saya selama saya berinteraksi dan menyusun disertasi di sana. Salah satu yang paling saya ingat adalah kisahnya tentang Universitas Leiden, yang aslinya dibuat sebagai hadiah dari Raja Belanda karena warga Leiden [Leidenaar] berhasil menghadang pasukan Kerajaan Spanyol yang ingin menguasai tanah Belanda.

Warga Leiden ditawarkan Raja mau bebas pajak setahun atau dibuatkan Universitas, untunglah warga memilih Universitas. Jadilah ia universitas pertama yang didirikan di Belanda. Leiden pun berubah dari sebuah kota kecil dikelilingi rawa-rawa dan pertanian, menjadi kota sekolahan utama di Belanda. Universitas Leiden pun terus berkembang hingga meraih reputasi istimewa di Belanda, juga di dunia.

Tapi ada kisah yang jarang orang tahu, dan ini saya dapatkan dari Professor JMO, bahwa karena ia Universitas baru pertama, kebanyakan guru-guru besar dan dosen pun harus didatangkan dari luar Leiden. Banyak dari mereka adalah lulusan dari luar Belanda, dan kebanyakan tinggal di kota besar seperti Amsterdam dan Den Haag.

Mereka mengajar dan bekerja di Leiden, tetapi tinggalnya tidak di Leiden melainkan kota-kota besar tadi. Sementara Leidenaar tetap dengan profesinya sebagai petani, hidup secara tradisional, tinggal di pinggiran. Universitas Leiden pun menjadi seperti menara gading, yang cenderung terasing dengan warga sekitarnya.

Meski sudah jauh berkurang seiring berkembangnya Leiden, sebagian warisan ini masih terus hidup. Sebagian Leidenaar masih hidup terasing dari kemilau Universitas Leiden yang cemerlang. Namun selalu saja ada upaya dari Universitas Leiden sendiri untuk memupus itu. Salah satunya adalah orang seperti Professor JMO, yang secara jujur mengakui tantangan Universitas Leiden, bukan terhadap dunia, tetapi terutama terhadap warga sekitarnya sendiri.

Dari banyak pelajaran yang saya dapat melalui interaksi dengannya, bagi saya inilah satu pemahaman terpenting yang akan saya terus ingat. Untuk Universitas, dan orang-orang yang belajar dan bekerja di sana seperti saya, perlu senantiasa belajar berhenti berpikir dan mulai melakukan sesuatu bagi masyarakat.

Acara kemarin adalah puncak dari berbagai kenangan dan pelajaran yang kami raih. Ada murid-muridnya yang menyempatkan diri ke Leiden dan menghadiri secara langsung, sebagian tidak bisa hadir dan membuat video singkat ucapan kenangan.

Saya membuat video dan membacakan sebuah puisi untuk Professor JMO, yang mengingatkan saya padanya dan pada semua yang sudah [dan akan] diajarkannya kepada saya:

“Those who learn with us are part of the whole. Those who have learned before the beginning are also part. Those who learn after us complete the circle.

Only individual classes have beginnings and endings. True learning and teaching came before the beginning and will continue after the end.”

Thank you for everything Professor Jan-Michiels Otto, it was just the first journey. See you in the next one!

 

#PSInomor11
#NgalamBois

Leave a Reply