Menyelamatkan NASIB PETANI berarti MENYELAMATKAN BANGSA

posted in: #Ecology, #Ngalambois | 0

Malang Raya masih didominasi pertanian meskipun industrialisasi semakin menerjang lahan lahan subur penghasil bahan pangan seperti pagi atau produksi lain, spt tebu atau tembakau.

Dalam dialog dengan petani tebu dan tembakau pada hari minggu, 1Juli 2018, saya menemukan keadaan yg sangat merisaukan perasaan saya. “sering kali saya mendengar dan membaca bahwa petani memang selalu dirugikan”, saat ini saya mendengarkan secara langsung dari pengakuan seorang petani yang ikut dalam pertemuan.

Ketidakmampuan menentukan harga dari produk pertanian yg mereka hasilkan adalah hasil dari sistem pengelolaan produksi pertanian. Hal ini diakibatkan dari sistem yang tidak berpihak pada petani. Tebu misalnya, harga ditentukan oleh kelompok atau paguyuban yang berpihak pada pengepul atau pemodal. Belum lagi sistem ijon yang mengakibatkan ketergantungan petani pada pengepul tidak bisa dihindarkan. Ujungnya, petani pasti rugi. Harga tinggi atau rendah yang paling diuntungkan adalah pemilik modal.

Disadari atau tidak dunia pertanianpun memiliki sistem politiknya sendiri. Kepentingan antar komponen sistem tersebut tidak terelaborasi dengan baik karena semua komponen hanya memikirkan kelompoknya sendiri. Entah itu pengepul maupun pengelola pabrik.

Sebuah bangsa hanya akan tumbuh secara mandiri jika- sektor pertanian diprioritaskan ketahanannya. Ketahanan pertanian adalah ketahanan pangan, selanjutnya ketahanan petani.

Sungguh menjadi tragis hanya 1 petani yang mampu ikut program BPJS. Sabagai seorang yang pernah memperjuangkan jaminan sosial, saya merasa terpanggil untuk ikut memikirkan situasi ini. Saya akan mencoba sekuat tenaga untuk mencoba merubah situasi ini.Semoga misi ini bisa saya lakukan sebagai persembahan diri saya untuk petani Malang Raya.

Leave a Reply