Menimba MODAL POLITIK dari KAWRUH JIWA (pengetahuan Jiwa)

posted in: #Cultural, #Spiritual | 0

Menarik sekali diskusi yang diangkat dengan label Junggringa Kawruh Jiwa, kedai kopi Tjangkir 13, Lowokwaru, Malang. Diskusi tersebut benar benar melawan arus budaya masyarakat. Era gadget yang saat ini mendominasi anak muda dipertemukan dengan beberapa orang tua yang identik kuno, tradisional. Audience yang datangpun didominasi anak muda dengan rasa ingin tahu sebenarnya apa sih yang mau diinformasikan tentang ‘kawruh jiwo’ (pengetahuan Jiwa).

“Malaikat seperti apa yang ada di keluarga mbah Marno?” Kata Aji Prasetyo sambil melanjutkan kisah kecilnya. Mbah Marno adalah tetangga keluarga Aji Prasetyo kecil. Pernah suatu kali Aji bermain tumpakan bata dan pasir yang ada di halaman rumah mbah Marno. Saking senangnya bermain Aji tidak pernah menyadari bahwa aktivitas mainnya tersebut membuat mbah Marno menghentikan kegiatan renovasi di bagian belakang rumahnya.

Kesempatan berikut ketika Aji disuruh ibunya ke toko kelontong samping rumahnya, dia berjumpa dengan mbok Marno. Didengarkan suara lirih mbok Marno pinjam setrika ke pemilik toko. Aji menceritakan kepada ibunya tentang mbok Marno. “Ladalah Le..setrika mbok Marno kan ada di kita!” Ujar ibunya menyadari perbuatannya.

Aji tidak memahami kala itu. Kini Aji sudah tumbuh menjadi Komikus ternama. Cerita itu kembali muncul dengan pertanyaan lanjutan, “mengapa orang yang olah spiritualnya baik, hidupnya kog menderita?” Itulah narasi pembuka yang menyambungkan dimensi tua dengan anak muda jaman sekarang.

Ki Priyono, tokoh Kejawen kota Malang menuturkan hal paling dasar dalam kehidupan setiap manusia adalah kemampuannya untuk mau menerima kenyataan. Kenyataan adalah situasi alam hadir dan memberikan kita pelajaran. Yang banyak dilupakan oleh manusia adalah ‘rasa’, ‘raos’. Manusia lebih banyak menjalani hidupnya hanya dengan pikiran. “Rasa akan banyak megajarkan tentang bener lan pener!”, tegasnya. Sebaliknya “pikiran mengajarkan benar dan salah, baik dan buruk!”

Pikiran akan membuat kita melekat pada apa yang baik, benar, dan bagus. Padahal diri kita tidak cuma terdiri dari yang baik baik saja, yang bagus bagus saja. Ada kala disaat kita jelek, salah bahkan tampil buruk. “Maka sangat anjurkan bahwa kita haruslah bisa merasa bukan merasa bisa!” Tegas Ki Priyono.

Tujuan hidup manusia itu adalah kenal hidupnya dan darimana kehidupan berasal maka penting sekali untuk selalu menebarkan “memayu huyuning bawono” istilah klasik jawa yang selalu menyerukan bahwa tindakan kita harus ikut mempercantik dunia.
Mbah dan mbok Marno adalah contoh yang dihadirkan melalui memori kecil Aji Prasetyo, betapa mulianya 2 orang tua tersebut. Untuk mengambil dan menggunakan miliknya sendiri saja begitu memperhitungkan perasaan Aji dan Ibunya. Mereka berdua meneladankan rasa yang sebenarnya sama untuk semua manusia. Bahkan mereka memilih menomorduakan kepentingan atau kesenangannya asal Aji bisa bahagia dengan pasir dan batu batanya dan ibunya tidak dipermalukan karena belum mengembalikan setrikanya.

Pelajaran yang saya ambil sebagi orang muda adalah bahwa kita punya budaya luhur. “Jika belum bisa membahagiakan orang lain, janganlah kita menyakitinnya. Kebahagiaan kita adalah ketika yang lain berbahagia”. Itu bukan kesimpulan! Namun sebuah nilai yg bisa saya petik dalam dialog malam tersebut

Saya membayangkan hanya bermodal 2 nilai diatas politik yang saat ini saya tempuh sebagai panggilan atau jalan hidup bisa benar benar menemukan arti positifnya. Hal itu mengingatkan saya pada niat yg pernah saya panjatkan “ilmu pengetahuan ini mengamanatkan saya untuk tetap berpijak di bumi dan membaktikan diri untuk harkat kemuliaan kemanusiaan”. Seperti yang dilakukan Mbah dan si mbok Marno kepada keluarga Aji Prasetyo kecil.

Leave a Reply