Melawan Korupsi Politik Butuh PARTAI POLITIK ANTI-KORUPSI

posted in: #Cultural, #Social | 0

Seorang anggota DPRD yang sempat saya temui bilang ke saya, di DPR[D] itu cuma ada dua fraksi: fraksi kebaikan dan fraksi kejahatan. Dia pun bercerita dengan sangat terbuka transformasi dirinya sendiri, dari politisi yang idealis menjadi pragmatis.

Awalnya, menurutnya, dia berusaha idealis, dengan menolak segala bentuk korupsi di dalam parlemen. Tapi akibatnya, menurutnya, dia pun dikucilkan. Berbagai pertemuan dan pembahasan di DPRD dilaksanakan tanpa dirinya dilibatkan. Akibatnya dia pun tidak bisa ikut pengaruhi kebijakan yang dihasilkan, khususnya anggaran.

Seorang anggota DPRD lain dari latar belakang aktivis buruh menjelaskan bagaimana dia biasa minta “jatah” bantuan sosial mesin cuci dari pemerintah provinsi, dan mendistribusikannya ke konstituennya di kabupaten. “Dari 100 bantuan, yang 50 untuk dinas yang 50 untuk saya yang menyalurkan. Warga tahunya itu bantuan dari saya,” jelasnya.

Kawan ini barangkali bukan termasuk koruptor yang mengambil keuntungan pribadi dari dana publik, meski ia boleh jadi dapat “upeti” dari rekanan pihak ketiga swasta penyalur mesin cuci itu. Dan menurutnya itu wajar saja karena dia toh ikut membantu pihak ketiga itu mendapatkan proyek.

Kedua anggota Dewan ini mengaku harus mengikuti arus. Meski menurut mereka uangnya dan bantuan sosialnya tidak dipakai sendiri, tapi langsung disalurkan ke masyarakat.

“Tapi kalau ada KPK mengusut saya juga pasti akan kena,” ujarnya mengacu ke kasus OTT belasan anggota DPRD di Kota Malang belum lama ini. “Itu risiko yg harus saya ambil untuk kepentingan lebih besar,” imbuhnya lagi.

Ke depan cita2 salah satu mereka mau masuk eksekutif, karena menurutnya hanya dengan itu dia bisa membuat perubahan yang lebih signifikan. Pemilihan bupati pada tahun 2020 menjadi target berikutnya.

Dari observasi saya ke warga, mereka ini dua dari amat sedikit anggota dewan yg selemah2nya iman memang sungguh membantu membuat anggaran publik bisa dinikmati masyarakat. Setidaknya sebagian besarnya.

Menurut mereka itu dilakukan dengan risiko juga masuk penjara karena korupsi yang sudah sangat sistemik di dalamnya, di mana dirinya pun menjadi bagiannya. “Rakyat tampak juga tidak peduli sebetulnya apakah bantuan itu berasal dari yang halal atau tidak; mereka hanya minta wujud nyata bukan janji-janji,” tegas sang anggota DPRD tadi.

Salut saya pada mereka, tetapi tidak ada hal baru yang mereka tawarkan di dalam politik yang mereka tekuni itu. Mereka tetap melakukan politik transaksional, dan adalah “lone ranger”, pejuang sendirian; dan semua kebaikan akan musnah tanpa bekas ketika mereka tidak lagi berada di sana.

Mereka juga tetap cenderung mempertahankan politik elitis dan asyik main di atas, meski retorika waktu kampanye adalah perjuangan rakyat. Dengan atau tanpa disadarinya, semulia apa pun politik mereka itu, rakyat semata menjadi “obyek” dari baktinya.

Inti kisah di atas adalah belum tampaknya upaya konkret dilakukan untuk mendorong partisipasi publik guna menaikkan posisi tawarnya dan posisi tawar rakyatnya sendiri. Di sini tidak bisa politisi main sendiri, dibutuhkan partai yang memang karena pilihan secara teguh memilih untuk tidak korup.

Panggilan fraksi “kebaikan” yg disebut tadi seharusnya menyiapkan partisipasi yang lebih luas dari masyarakat, untuk bersama2 mendorong tata kelola anggaran yg lebih baik. Partai politik punya dan bisa menjadi organisasi perjuangan guna mewujudkan itu.

Partai Solidaritas Indonesia punya cita-cita itu, dan ingin mewujudkannya dalam karya nyata. Mulai sekarang juga mulai dari proses rekrutmen, dan nanti kalau lolos di DPR, dan pembangunan sistem yang sedang dilakukan kalau masuk nanti [kontrak politik sedia mundur kalau korup atau melanggar hukum; aplikasi ponsel untuk monitoring anggota Dewan oleh konstituen, dll].

Tetapi apakah rakyat karena itu mau percaya dan memilih PSI untuk membuktikan itu? Atau apatisme dan ketidakpercayaan sudah sangat akut hingga tak tersembuhkan lagi? Apakah masih tersisa sedikit kepercayaan diri pada anda untuk sekali lagi pada pemilu 17 April 2019 nanti, memilih partai dan caleg yang benar dan mengambil risiko termasuk dikhianati?

Saya mengajak semua anda yang peduli untuk melakukan sesuatu yang bisa jadi tidak anda sukai: pilih PSI dan calegnya di daerah mana pun anda tinggal. Bantu kami dan #PSI melakukan #bersihbersihDPR ketika kami masuk nanti.

Waktu dan sejarah yang akan membuktikan nanti. Hari ini saya hanya bisa berjanji: bahwa saya akan memperjuangkan dan menjaga itu sekuat tenaga dan semampu saya.

#SuryaTjandra #PSInomor11
#MalangRaya #NgalamBois

Leave a Reply