KERJA NYATA DOA IKHLAS : simbol politik sehat

posted in: #Spiritual | 0

Suatu sore ketika perjalanan ke daerah Malang Selatan, saya melihat seorang wanita tengah menggendong setumpuk rumput di punggungnya. Tanpa pikir panjang saya langsung meminta pengemudi Katana off road saya untuk berhenti.

Kuhampiri wanita itu dengan salam, “Sore bu.. maaf bisa mengganggu sebentar?” Tanpa banyak curiga ibu tersebut berhenti dan melepaskan rumput tersebut dari punggungnya. Sembari kubantu menahan gendongan rumput tersebut kuawali dialog sore itu.

“Saya Surya Tjandra bu.. di Malang saya tinggal di Lowokwaru. Saya kebetulan lewat tadi dan melihat ibu berjalan menyusuri jalan ini,” demikian aku memperkenalkan diri. “Rumah ibu di mana? Buat apa rumput rumput ini?” lanjut penasaranku.

Sembari tersenyum ibu itu menjawabku, “Kulo, Aminah. Saya punya beberapa ekor anak sapi di rumah. Rumput ini untuk mereka. Yaa… daripada hanya berdiam diri di rumah, kan mendingan ngisi waktu dengan mencari rumput… biar badan tidak sakit.”

“Kenapa tidak nyuruh orang atau anak anak jenengan bu?” kanjutku sembari menawarkan minum. Maklum cuaca lumayan panas akibat anomali cuaca yang melanda Malang akhir-akhir ini. “Oalah mas! Pekerjaan seperti ini saja kenapa harus menyuruh orang lain? Nyuruh anak! Mana mau mereka merumput!” ujarnya tegas tanpa emosi.

“Setiap hari saya merumput, setiap hari itu juga saya berkomunikasi dengan sapi-sapi saya. Hasilnya, mereka tumbuh tanpa kekurangan karena setiap hari saya menyapa mereka,” demikian si ibu menjelaskan. “Kalau diserahkan orang lain, mungkin sapi-sapi saya tidak mengenal saya dan sebaliknya. Saya mengenal mereka, ebutuhan mereka,” ujarnya berargumentasi.

Obrolan berlanjut tanpa terasa. Jujur, apa adamya dan tidak berpikir praktis dan rumit. Itulah pengenalanku pada salah seorang warga Malang raya yang sore ini kutemui.

“GILA! Kepada sapi saja dia berpikir seperti itu! Gimana epada manusia yang lain seperti apa?” Asumsi mulai berkembang dalam pikiranku. “BOIS bener nih Malang! Ada seorang wanita yang sangat menghargai mahluk yang lain,” ujarku dalam hati menertawakan diri sendiri.

Tidak salah ketika saya memutuskan masuk ke dalam ranah kontestasi politik di Malang Raya. Iklim politik Malang Raya tidaklah ramah sesuai info yang saya dapat. Namun banyak hal sederhana tersajikan penuh dengan makna dan itu dilakukan oleh warga Malang Raya yang sederhana. Warga yang selalu giat dan tekun dalam kerja keras mereka memenuhi kebutuhan secara mandiri. Dan ini berbeda 180 derajat dengan politisinya yang kerap menggunakan orang lain untuk meraih tujuan pragmatisnya.

Jadi ingat dengan pak Joko Widodo, capres pilihan saya, dan segala kerja kerasnya mendorong negeri ini lebih baik bagi warganya. Bekerja nyata dan berdoa ikhlas kiranya tepat sebagai refleksi saya untuk masuk dalam kontestasi politik DPR-RI dari Dapil Jawa Timur V Malang Raya.

Malang Raya menuntut kerja keras dan nyata saya dalam membangun komunikasi untuk menumbuhkan ikatan emosional antara saya sebagai calon dan warga sebagai konstituen.

Untuk mengenal dan memahami kebutuhan perkembangan masyarakat Malang saya harus melakukannya sendiri. Blusukan dan bertemu dengan berbagai komunitas warga Malang Raya.

Mulai dari keterbatasan saya sambil terus belajar. Sehingga pengalaman yang tumbuh dalam pribadi saya bisa seiring dengan pertumbuhan warga Malang Raya.

Semoga saya bisa mewujudkannya dengan bantuan seluruh teman-teman saya di Malang ini. Dan rasanya saya sudah punya banyak teman, salah satunya adalah si ibu penggendong rumput yang saya temui sore itu.

Matur nuwun sanget bu, berkah dalem.

#SuryaTjandra
#NgalamBois
#PSInomor11
#jokowi2periode

Leave a Reply