Hubungan ANGGOTA DPR RI dengan KONSTITUEN ADALAH Seperti ANAK DENGAN ORANG TUANYA

posted in: #Social | 0

Hubungan ANGGOTA DPR RI dengan KONSTITUEN ADALAH Seperti ANAK DENGAN ORANG TUANYA

(Refleksi sosialisasi dengan Jemaah Tahlil Muslimat Curung Rejo Kepanjen, kab Malang)

Sore itu saya berempat hendak meluncur ke Ngadas. Namun karena mempertimbangkan waktu yang bisa dilambatkan akhirnya kami memutuskan balik ke Sekretariat Surya Tjandra Centre.

Pukul 17.15 wib kami memutuskan utk meluncur desa Curungrejo, Kepanjen. Sesampai disana masih sepi karena bertepatan dengan ibadah sholat Magrib. Satu persatu ibu ibu jemaah tahlil mukai berdatangan. Kurang lebih 40 an orang berkumpul di tempat yang disediakan oleh teman saya.

“Nanti jika saya mengatakan satu kata, tolong ibu ibu yang saya tunjuk untuk menyampaikan apa yang terlintas di pikiran ibu yang saya tunjuk untuk berpendapat.” Begitu kira kira saya membuka pertemuan.

MALANG!” Ucap saya sembari menunjuk salah seorang ibu berbaju merah duduk di tengah. “KOTA!“jawab ibu tersebut. “IBU“, “KASIH SAYANG!” Ucapan saya dilanjut seorang ibu lainnya. “ANAK!” “AMANAH!” dan seterusnya sembari saya catat kata kata saya dan jawaban spontan ibu ibu tersebut di kaca jendela rumah tsb.

POLITIK!” “NGAPUSI!“, “DPR!” “KORUPSI!,”AMANAH!” saya melanjutkan dialog spontan tersebut sembari tulis menulis.

Setelah selesai sayapun memandang jendela tersebut dan mulai menjelaskan maksud saya. “Saya menanyakan dengan model seperti itu dengan maksud untuk melihat kejujuran panjenengan semua!. Reaksi yang diberikan saat pertama adalah reaksi yang murni dan biasanya jujur!” Sayapun ingin membina kejujuran dalam membangun hubungan dengan masyarakat.” Penjelasan saya sembari mengamati hasil catatan spontan di jendela.

Ketika kita bilang anak, jawaban yang muncul adalah amanah. Itu sama dengan ketika saya menanyakan DPR. Amanah adalah sebuah pengertian dalam dalam dan hadir melalui suqtu hal yang baik. Jadi wajib dijaga, dirawat dan dikembangkan seperti layaknya ibu mewarat seorang anak.

Menjadi anggota DPR juga merupakan amanah dari konstituen. Setiap anggota DPR wajib menjaga, memelihara dan mengembangkan konstituennya menjadi lebih berdaya, dan sebaliknya masyarakat harus selalu mengingatkan orang yqng dipercaya untuk bekerja keras mewujudkan tujuan masyarakat lebih sejahtera.

“Bisa saja hari ini saya membagikan uang kepada warga semua untuk memilih saya!” Dan andaikata warga memilih saya dan saya dipercaya Tuhan untuk mewakili warga, maka hubungan saya dengan warga sudah selesai! Kita impas! lunas bayar di muka!” Maka tidak ada kewajiban saya untuk berkomunikasi dengan warga”.”saya tidak mau hal itu!, mending jangan pilih saya jika motivasinya sebatas isi amplop!” Ajak saya pada warga.

Sontak warga cukup terkejut. Saya memberikan gambaran sekali lagi hubungan saya dengan warga adalah sama dengan hubungan warga dengan anak anaknya. Hubungan ini adalah amanah. Bukan sebuah transaksi jangka pendek untuk persoalan jadi dan tidak jadi anggota dewan.

Ada PR besar yang harus diselesaikan bersama sebagai keluarga warga negara. Saya butuh masyarakat dan masyarakat butuh saya sebagai wakilnya di DPR-RI.

Sempat saya sampaikan dana aspirasi senilai 2 Milyar satu tahun dimiliki oleh anggota dewan. Saya berkeyakinan bahwa anggaran akan berguna secara maksimal ketika amanah itu menjadi spirit kerjasama antar masyarakat dan anggota dewannya. Dana itu akan menjadi penunjang untuk setiap komponen masyarakat berkembang sesuai dengan potensi, contohnya untuk pengembangan industri mikro di desa Curungrejo Kepanjen.

Saatnya “ngalambois” menjadi

Salam
Surya Tjandra, Caleg PSi dapil Malang Raya

Leave a Reply