DIRGAHAYU ke-57 PAK JOKOWI

posted in: #Social | 0

Tidak terasa sudah hampir enam tahun saya kenal bapak ini, pertama kali ketemu hampir enam tahun lalu di rumah dinasnya di Solo. Hampir tengah malam, hanya dengan pakai kaos oblong dan kain sarung.

Ini penutup dari perjalanan tiga hari saya keliling-keliling Solo, ketemu banyak dan macam-macam orang di sana, sekadar ingin tahu orang yang bisa jadi Gubernur saya waktu itu [yang semua yang saya temui mengatakan hal baik tentangnya!.

DIRGAHAYU ke-57 PAK JOKOWI

Kesan saya orangnya memang sederhana, apa adanya, dan rileks. Bicaranya santun dan ramah, tidak tampak ingin menunjukkan wibawa sebagai pejabat. Orang yang tampaknya sudah selesai dengan dirinya.

Waktu saya tanya gimana kesannya sebagai wali kota dua periode dan, waktu itu, sebagai calon gubernur DKI. Beliau bercerita pengalaman pertamanya tinggal di Loji Gandrung, rumah dinasnya.

“Begitu saya terpilih sebagai walikota pertama kali, banyak sekali orang yang datang ke rumah ini,” ujarnya memulai penjelasan.

“Siapa pak?” tanya saya tertarik.

“Kebanyakan kepala-kepala dinas.”

“Mereka ngapain, pak?”

“Macam-macam, kebanyakan menanyakan kepada saya: ‘Bapak butuh apa?’ ‘Kendaraan dinas bapak mau yang seperti apa’, ‘Apa yang bisa kami lakukan untuk bapak’, …”

“Ohh… lalu apa yang bapak lakukan?”

“Saya biarkan saja selama dua minggu.”

“Lalu?”

“Lalu saya kumpulkan mereka semua di Balai Kota. Saya sampaikan bahwa yang jadi Wali Kota adalah saya bukan Anda. Saya yang mengatur Anda, bukan Anda yang mengatur saya.”

“Ohh…” [saya tersenyum]

“Itu godaan pertama setiap pejabat, staf terdekatnya sendiri yang ingin mengatur-atur.” [wajahnya sedikit mengeras]

Pertemuan pertama yang mengesankan. Setelah itu kami hanya sempat bertemu secara tidak khusus: waktu melihatnya belusukan dengan baju kotak-kotak di daerah Glodok; waktu melihatnya menyampaikan pidato penutupan kampanye sebagai calon Gubernur DKI di Jakarta.

Waktu di TV melihatnya menyampaikan pidato kemenangan sebagai Presiden RI yang ke-7. Dan waktu melihatnya, sebagai Presiden, di TV menyebut nama saya sebagai satu dari delapan capim KPK yang lolos seleksi Pansel Sembilan Srikandi.

Kebanyakan saya hanya mengamatinya dari kejauhan, dan hanya dengan mata batin memperhatikan dirinya, tantangan-tantangan yang dihadapinya, tanggapan dan responnya menghadapi situasi-situasi bangsa, yang sering tidak mudah.

Sejauh ini saya merasa masih bisa terus memahaminya, dan cenderung memahami pilihan-pilihan yang diambilnya. Meski kadang tidak populer kesannya, saya percaya dia memilih yang terbaik yang bisa diambilnya.

Bukan sekadar untuk dirinya tetapi untuk kebaikan yang lebih besar. Meski tentu tidak semua orang akan mengerti atau menerima ini. Tetapi bukankah kepercayaan adalah pilihan? Saya memilih untuk terus percaya padanya karena tidak percaya yang lain akan bisa sebebas dia ketika memimpin.

Apakah ini favoritisme atau karena saya diuntungkan karenanya?

Rasanya tidak. Saya hanya merasa bapak ini masih seperti pertama kali saya temui enam tahun lalu di Loji Gandrung: hampir tengah malam, di rumah dinasnya, hanya dengan pakai kaos oblong dan kain sarung.

Selamat ulang tahun ke-57 pak #Jokowi – tambah umur, tambah rejeki, tambah hepi. Berkah dalem.

#SuryaTjandra
#NgalamBois

Leave a Reply