Desa Ngadas, DESA PANCASILA

Kita manusia ini hidup menumpang di sebuah pesawat antariksa kuno yang disebut bumi. Semua yang kita lakukan terhadapnya selalu berakibat merusaknya sesedikit apa pun itu. Karenanya sudah sepatutnya kita mendoakan dan meminta maaf kepada alam, bumi, air, dan pepohonan, karena setiap hari kita sudah boleh memanfaatkannya.

Demikian kira2 kepercayaan masyarakat Tengger yang hidup di lereng pegunungan Tengger, tersebar di wilayah Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Jumlahnya mencapai belasan desa dan berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Satu desa yang memegang teguh kepercayaan ini adalah Desa Adat Ngadas, yang terletak di tengah2 Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang. Melalui sebuah upacara adat yang diselenggarakan lima tahun sekali, dikenal dengan Unan-Unan, yang bertujuan memberikan sedekah kepada alam dan isinya, termasuk kepada mereka yang menjaga tempat-tempat, seperti sumber mata air, desa, serta tanah pertanian.

Upacara Unan-Unan, juga sering disebut sebagai bersih desa, yaitu untuk membebaskan desa dari gangguan makhluk halus atau bhutakala sebagai tolak-balak serta permohonan penyucian agar terhindar dari segala penyakit dan penderitaan serta terbebas dari segala malapetaka. Bahkan umat manusia di seluruh dunia juga dimohonkan agar diberi keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian abadi (kureping langit lumahing bumi).

Yang unik di Ngadas, warganya terdiri dari berbagai agama di mana penganut Hindu menjadi mayoritas, disusul Budha dan Islam. Semua hidup rukun dan saling menghargai, disatukan oleh adat turun temurun yang terus dijaga dan dilestarikan oleh warganya sendiri.

“Keyakinan agama adalah milik masing2, tetapi semua warga Ngadas wajib menghormati adat yang berlaku di tanah ini, yang sudah menjaga kami sejak ribuan tahun hingga hari ini.” jelas pak Sujak, Ketua Desa Wisata Ngadas.

Beliau sendiri adalah seorang Muslim, suami dari seorang perempuan Hindu. Keluarganya yang lain ada yang beragama Budha. Sesuatu yang lazim terjadi di Ngadas.

Upacara Unan-Unan, antusiasme masyarakat untuk bersama-sama melestarikannya; keteguhan untuk saling menghormati keyakinan pribadi dijaga oleh adat yang mengakar; mengingatkan saya pada keluhuran tradisi asli warga Nusantara ini.

Simak Video: Prosesi BERSIH DESA Upacara UNAN-UNAN Desa Ngadas

Apa yang disebut oleh Bung Karno sebagai bina negara secara “weltanschauung” [bahasa Jerman: pandangan dunia]: dari semua, oleh semua, dan untuk semua. Bukan semata pandangan primordial yang sempit. Yang dibuktikan oleh kerajaan kuno Sriwijaya dan Majapahit, yang berhasil menyatukan Nusantara.

Desa Ngadas adalah salah satu wujud nyata dari Pancasila, penjelmaan konkret dari prinsip “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetap satu), dan “Tan hana dharma mangrwa” (Tidak ada kebenaran yang mendua).

Kemarin saya sempat menetes air mata, terharu dan bersyukur, boleh melihat dan mengalaminya secara langsung di sebuah desa pegunungan nan asri ini, Ngadas.

Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2018

Hormat saya,
Surya Tjandra

#AkuIndonesia #AkuPancasila
#NgalamBois

Leave a Reply